Mitos “Kutukan” Dusun Ngaglik, Asnawi Tawarkan Sejumlah Solusi
Moh. Asnawi, anggota DPRD Rembang dari Kecamatan Sumber.
Moh. Asnawi, anggota DPRD Rembang dari Kecamatan Sumber.

Sumber – Sejumlah kalangan meminta supaya masalah yang muncul di Dusun Ngaglik Desa Kedungasem Kecamatan Sumber, tidak dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Gara – gara pengaruh mitos turun temurun, membuat aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI/Polri menjadi takut masuk ke dusun tersebut dan berdampak terhadap ketidakadilan pelayanan bagi masyarakat.

Pardi, seorang perangkat desa Kedungasem Kecamatan Sumber membenarkan selama ini warga Dusun Ngaglik memang cenderung mengalah dan pasrah dengan keadaan. Semisal ketika bidan desa enggan masuk Dusun Ngaglik, dengan alasan mitos “kutukan”. Ibu yang melahirkan beserta bayinya tetap rela keluar kampung, demi mendapatkan pelayanan bidan.

Meski demikian, mereka sebenarnya tetap ingin mendapatkan perlakuan yang sama dengan warga di dusun lainnya. Bagi Pardi, selama pegawai negeri, TNI/Polri memiliki niat baik, tidak masalah keluar masuk Dusun Ngaglik.

Solusi Keluhan Lambung

“Kebetulan antara Ngaglik dengan Desa Kedungasem jaraknya dekat, nggak sampai 0,5 kilo meter. Jadi ibu – ibu itu ya mau saja keluar kampung, meski baru melahirkan. Soal mitos, saya kira memang masih. Cuman kuncinya gini lho, selama niat kita baik, kenapa musti takut masuk Ngaglik. Mohon jangan dibeda – bedakanlah. Masak Ngaglik seperti dikarantina gitu, “ jelasnya.

Mitos Dusun Ngaglik juga mendapatkan tanggapan khusus Mohammad Asnawi, Ketua Komisi A DPRD Rembang, yang juga berasal dari Kecamatan Sumber. Asnawi mengakui agak sulit merubah, ketika seseorang sudah meyakini Dusun Ngaglik menjadi pantangan bagi aparat keamanan maupun pegawai negeri.

Meski demikian menurutnya tetap ada solusi pemecahan, guna mengikis mitos tersebut. Semisal tokoh – tokoh pegawai negeri, mulai dari Muspika Sumber, atau bahkan Kapolres, Komandan Kodim hingga Bupati Rembang bersama jajarannya mau masuk berkunjung ke Dusun Ngaglik.

Cara lain, kalau ada event – event kegiatan pemerintah tingkat kabupaten, dipusatkan di dalam dusun Ngaglik. Ketika tidak ada masalah, ia yakin mitos akan memudar dengan sendirinya. Tanpa ada kampanye seperti itu, sampai kapanpun masih banyak aparat pemerintah “was – was” menginjakkan kaki di bumi Dusun Ngaglik.

“Pertanyaannya apakah ketakutan dan kekhawatiran terhadap Dusun Ngaglik akan terus berlanjut, sampai anak cucu kita kelak. Ya kasihan lah. Solusinya perlu ada yang mempelopori untuk masuk sana. Pejabat – pejabat teras dari pemerintah, syukur pak Bupati, pak Dandim sama pak Kapolres ikut turun langsung. DPRD insyallah siap, toh ujung – ujungnya untuk meyakinkan jajaran pegawai di tingkat bawah yang bersentuhan langsung dengan pelayanan warga, “ kata Asnawi.

Sebagaimana kami beritakan sebelumnya, dalam forum kesehatan desa di kantor Kecamatan Sumber baru – baru ini, ada kader kesehatan dari Dusun Ngaglik mengeluhkan pelayanan kesehatan masyarakat kampungnya yang dihuni 40 an KK. Hal itu karena bidan desa takut masuk Dusun Ngaglik, khawatir akan kena sial. Pihak Puskesmas sendiri meminta supaya bidan menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya. Tapi karena sudah terlanjur takut, himbauan tersebut kurang efektif. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *