Pertimbangkan Kualitas, Pilih Tolak Pendaftar Yang Melebihi Kapasitas
Orang tua saat mendaftarkan anaknya di SDIT Avicena Lasem.
Orang tua saat mendaftarkan anaknya di SDIT Avicena Lasem.

Lasem – Meski banyak peminat, namun pihak Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Avicena Lasem tetap menolak pendaftar yang membludak. Selain mempertimbangkan kesiapan kelas, langkah tersebut juga untuk memperhatikan kualitas pembelajaran.

Kepala SDIT Avicena Lasem, Muhammad Suyuti mengatakan saat ini pihaknya menyediakan 2 rombongan belajar atau kelas. Masing – masing kelas diisi 34 anak. Kalau seandainya diterima semua, kemungkinan bisa mencapai lebih dari 100 orang pendaftar. Begitu jumlah siswa terlalu banyak, dikhawatirkan berdampak terhadap kualitas. Padahal kepercayaan masyarakat saat ini sudah cukup tinggi, justru akan menjadi bumerang manakala dipaksakan.

Siswa yang mendaftar tidak hanya dari Lasem, tapi juga dari Rembang Kota, Pancur, Sluke, dan Kecamatan Sarang.

“Ruangannya cuman 2, kita nggak boleh ngoyo dan mempertaruhkan kualitas. Jumlah 34 per kelas itu sudah standar, kami mohon maaf terpaksa harus menolak. Karena SDIT nggak menyediakan asrama, jadi rata – rata yang rumahnya luar Lasem, diantar jemput oleh orang tua mereka, “ jelasnya.

Suyuti menambahkan hari pertama masuk tahun ajaran baru akan dimulai tanggal 16 Juli mendatang. Nantinya siswa baru menjalani masa pengenalan sekolah. Karena kebetulan siswa SDIT masuk sehari penuh, kebijakan tersebut tidak akan langsung diberlakukan. Siswa baru akan dipulangkan tiap pukul 10.00 WIB, selama seminggu.

“Tahun ajaran baru insyaallah tanggal 16 Juli. Nanti ada pengenalan sekolah. SDIT kan full day school. Pada tahap awal, siswa kita pulangkan jam 10.00 WIB, biar nggak terlalu kaget, “ imbuh Suyuti.

Jika di SDIT Avicena Lasem, jumlah pendaftar melebihi kapasitas daya tampung, tidak demikian halnya beberapa sekolah lain yang masih kekurangan murid dan masih membuka pendaftaran, hingga menjelang tahun ajaran baru.

Suyanto, salah satu orang tua murid di Kelurahan Kutoharjo, Rembang menganggap meski penerimaan peserta didik baru (PPDB) sekarang menggunakan sistem zonasi, namun orang tua tetap mempertimbangkan kualitas sekolah.

“Jadi ya masih biasa saja, siswa dari Rembang sekolah di Lasem atau sebaliknya. Lagipula tetap susah ngeceknya. Orang tua kan pengin yang terbaik untuk anak – anaknya, “ kata Suyanto. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *