Berharap Pada Kedelai, Nantikan Uluran Tangan
Pengrajin tempe di Desa Kasreman, Rembang sibuk menata barang dagangannya.
Pengrajin tempe di Desa Kasreman, Rembang sibuk menata barang dagangannya.

Rembang – Para pengrajin tempe di Kabupaten Rembang selama ini hampir tak pernah tersentuh pembinaan maupun bantuan. Padahal keberadaan pengrajin tempe, jumlahnya mencapai ratusan. Selain menjadi penopang ekonomi, juga menyerap angka pengangguran.

Sumi’an, pembuat tempe di Desa Kasreman, Rembang menyatakan saat ini kapasitas produksi per hari rata – rata menghabiskan 50 kilo gram kedelai.

Untuk pekerja yang terlibat dalam proses produksi sebanyak 3 orang. Ia menganggap maju mundurnya usaha tempe, menggantungkan harga kedelai. Kalau harga kedelai mahal, biasanya turut berdampak pada kelangsungan usaha. Dirinya berharap harga kedelai murah atau paling tidak stabil, agar daya beli masyarakat turut meningkat.

“Harga kedelai Rp 760 ribu per kwintal, ambilnya dari Lasem. Yang giling kedelai saya sendiri. Sedangkan yang bungkusi 2 orang. Ya kami merintis kecil – kecilan lah ini, “ terangnya.

Sumian membenarkan para pengrajin tempe umumnya bergerak sendiri – sendiri, untuk menjalankan usaha.

Kalau di jenis usaha lain, sempat terdengar beberapa kali menerima bantuan dari pemerintah. Namun pengrajin tempe, menurutnya belum pernah. Ia pribadi sangat berharap bisa mendapatkan suntikan modal lunak, bantuan peralatan maupun bimbingan pelatihan.

“Peralatan seperti ini ya swadaya sendiri mas. Penginnya sektor UMKM seperti saya mendapatkan bimbingan, dorongan gimana biar kedepan lebih baik. Apakah dalam bentuk permodalan atau bantuan alat giling, “ kata Sumi’an.

Selama ini, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi Dan UMKM Kabupaten Rembang telah berupaya mendampingi cukup banyak pelaku UMKM.

Bentuknya, berupa pelatihan, pengurusan sertifikat halal secara gratis hingga pengembangan. Akhsanudin, Kepala Disperindagkop Dan UMKM mengatakan terkait pinjaman modal, pihaknya biasa membuat rekomendasi bagi pemohon yang akan mengajukan ke perbankan.

“Kalau mungkin ada yang belum tercover, kami juga perlu memperoleh informasi dari bawah. KUR (kredit usaha rakyat) masih terbuka kok, “ beber Akhsanudin. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *