Pantura Berubah Jadi Lautan Manusia, Polisi Kerahkan Tim Khusus Untuk Menghalau
Polisi meminggirkan penonton larung sesaji. (gambar atas) suasana kemacetan di jalur Pantura Rembang, Sabtu pagi.
Polisi meminggirkan penonton larung sesaji. (gambar atas) suasana kemacetan di jalur Pantura Rembang, Sabtu pagi.

Rembang – Arus balik Lebaran yang melintasi jalur Pantura Rembang, Sabtu pagi (23 Juni 2018) sempat terjebak macet, akibat dampak pawai larung sesaji nelayan. Untuk menghalau penonton yang memadati jalur Pantura, polisi bahkan harus mengerahkan tim penghalau massa.

Kondisi jalur Pantura dalam kota Rembang, tepatnya sebelah barat obyek wisata Taman Kartini, berubah seperti lautan manusia. Mereka selain akan berwisata ke Taman Kartini, juga ingin menyaksikan pawai larung sesaji dari nelayan Desa Tasikagung, yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan obyek wisata tersebut.

Jalur Pantura sudah dibagi, masing – masing separuh untuk pawai larung sesaji dan separuh untuk perlintasan kendaraan dari arah Semarang ke Surabaya. Meski demikian, banyak warga nekat berdiri di ruas jalan.

Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan. Termasuk mobil – mobil para pemudik. Polres Rembang terpaksa mengerahkan petugas khusus naik motor trail, untuk menghalau kerumunan penonton, agar berada di trotoar pinggir jalur Pantura dan tidak merangsek ke badan jalan. Tampak polisi sempat kewalahan, karena banyaknya penonton menyeberang jalan, membuat antrean kendaraan bertambah panjang.

Kasat Lantas Polres Rembang, AKP Roy Irawan mengatakan pihaknya berusaha keras agar jalur Pantura jangan sampai macet.

“Kita pake pengeras suara, berulang kali meminta penonton mundur ke belakang. Penginnya antara pawai sedekah laut sama kendaraan dari arah barat, sama – sama jalan. Lha kalau penonton terus maju, mau lewat mana. Makanya kita harus tegas, “ jelasnya.

Roy menimpali untuk arus kendaraan dari arah Surabaya menuju Semarang, dialihkan ke jalan lingkar Tireman – Pasar Penthungan dan jalur alternatif dalam kota Rembang. Truk – truk besar juga diminta masuk ke dalam pangkalan dulu untuk sementara waktu, sambil menunggu selesainya puncak pengunjung syawalan.

“Jam 1 siang ini sudah selesai. Makanya sejak pagi ada anggota yang mantau di Lasem, langsung mengarahkan truk – truk besar berhenti di pangkalan dulu. Soalnya kalau tetap jalan, malah akan menambah kesemrawutan. Apalagi ada himbauan, tanggal 23 – 25 Juni, truk di atas bobot 30 ton, jangan lewat Pantura, “ bebernya.

Sabtu siang, setelah pawai larung sesaji berakhir, lalu lintas di jalur Pantura dalam kota berangsur – angsur kembali lancar. Penutup gason pembatas di kanan kiri bundaran depan gedung DPRD, juga sudah dipindahkan. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *