Dilema, Antara Kebutuhan Dan Nyawa Terancam
Seorang pelajar SMP N di Gunem mengendarai sepeda motor tanpa memakai helm, saat pulang sekolah.
Seorang pelajar SMP N di Gunem mengendarai sepeda motor tanpa memakai helm, saat pulang sekolah.

Gunem – Masih banyaknya anak di bawah umur mengendarai sepeda motor ketika berangkat maupun pulang sekolah, membuat pihak Polsek Gunem prihatin.

Satu sisi, fenomena tersebut mengancam keselamatan anak – anak di jalan raya. Namun di sisi lain, kondisi geografis Kecamatan Gunem naik turun gunung. Kalau pelajar yang rumahnya jauh dilarang menggunakan sepeda motor, dikhawatirkan berdampak terhadap kelangsungan pendidikan mereka.

Kapolsek Gunem, AKP Djarot mengakui tiap jam berangkat dan pulang sekolah, sangat mudah menjumpai pelajar SMP yang rata – rata baru berumur 13 – 15 tahun naik sepeda motor sendiri. Sudah pasti mereka belum mengantongi Surat Izin Mengemudi (SIM). Polisi tak bisa menindak tegas sesuai aturan, mengingat masih mempertimbangkan sejumlah faktor, terutama ketiadaan angkutan umum.

Meski demikian tiap kali ada kesempatan menjadi inspektur upacara bendera di sekolah, AKP Djarot sering mengimbau kepada para pelajar mengenakan helm.

“Kami tetap gencarkan sosialisasi manfaat helm. Bahkan ketika ada warga datang ke kantor Mapolsek Gunem, kok tidak mengenakan helm, langsung saya suruh pulang untuk memakai helm dulu. Semata – mata ini demi keselamatan masyarakat, “ ungkap Kapolsek.

AKP Djarot menambahkan tiap hari Jum’at, dirinya juga menggelar safari Sholat Jumat. Begitu sholat selesai, pihaknya menyampaikan pesan – pesan Kamtibmas. Salah satunya terkait penggunaan helm pada waktu mengendarai sepeda motor. Sebelum jatuh korban jiwa, ia mengingatkan untuk bersama – sama mengantisipasi.

“Saya rutin mas safari Sholat Jum’at, bergantian dari satu desa ke desa lain. Salah satunya masalah helm kami singgung. Mungkin sebagian menganggap remeh. Tapi ingat medan jalan di sini berkelok – kelok. Bahaya kalau nggak pakai helm. Insyaallah masyarakat bisa memahami, “ tuturnya.

Seorang siswa SMP N I Gunem, Riyanto mengaku terpaksa naik motor ke sekolah, karena jarak antara rumah dengan sekolah mencapai hampir 7 kilo meter. Kalau naik sepeda onthel pulang pergi, menurutnya menguras tenaga. Maka ia meminta polisi memberikan toleransi.

“Mohon diizinkan naik motor, jangan dirazia pak. Bagi saya yang penting tidak ngebut selama di jalan raya, mau mematuhi aturan lalu lintas, dan wajib memakai helm, setuju saya, “ ujarnya. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *