Tak Sabar, Warga Gerak Sendiri
Operator alat berat beckhoe menata batu – batu besar untuk pemecah gelombang.
Operator alat berat beckhoe menata batu – batu besar untuk pemecah gelombang.

Sluke – Warga Desa Manggar Kecamatan Sluke berinisiatif membangun talud pemecah gelombang, dengan dana iuran nelayan. Mengingat sudah berulang kali mengajukan kepada pemerintah, belum pernah direalisasi.

Sekretaris Desa Manggar Kecamatan Sluke, Abdul Khamid menjelaskan masyarakat mengumpulkan dana patungan, sehingga mendapatkan Rp 80 an Juta.

Mereka berupaya lebih cepat menggalang dana, agar perahu – perahu yang ditambatkan di pinggir pantai Desa Manggar tidak terancam rusak oleh deburan ombak besar. Talud hasil patungan warga, dibangun di sisi timur.

Selain itu, pihak Desa Manggar mengalokasikan dana desa sebesar Rp 677 Juta, untuk membuat talud pemecah gelombang. Tahun ini rencananya digarap. Namun yang membedakan, talud dari sumber dana desa berada di sisi barat tambatan perahu.

“Kami sudah berulang kali mengusulkan sama pemerintah, tapi belum disetujui. Maka warga sama pemerintah desa ya gerak. Yang sudah dikerjakan talud dari uang patungan masyarakat, ini batu – batunya ditumpuk oleh operator alat berat beckhoe, “ jelasnya.

Abdul Khamid menambahkan kondisi ombak di pinggir Pantai Manggar relatif besar. Tidak hanya ketika musim ombak timuran, tetapi juga musim ombak baratan.

Akibatnya, perahu – perahu nelayan sering rusak saling berbenturan saat ditambatkan. Ketika cuaca ekstrem, nelayan biasanya mengalihkan perahu mereka ke sebelah timur Pelabuhan Tanjung Bonang Sluke, untuk berlindung.

“Ya tiap tahun rata – rata ada 2 sampai 3 perahu rusak mas. Biasanya antar perahu saling benturan atau kena karang. Di situ karangnya banyak. Kalau keadaan riskan, angin sama ombaknya terlalu besar, perahu dipindahkan semua ke timur pelabuhan, “ imbuh Khamid.

Seorang nelayan warga Desa Manggar, Rohmat menganggap keberadaan talud tersebut dapat memberikan manfaat bagi keamanan perahu. Apalagi perahu adalah aset berharga bagi nelayan.

“Kalau perahu pecah ya paling nggak butuh biaya lumayan untuk perbaikan mas. Apalagi kalau agak parah, minim Rp 5 jutaan. Bagi nelayan kecil, uang segitu sudah sangat besar, “ jelasnya. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *