Banyaknya Sanksi Yang Dijatuhkan Kepada PSIR, Banding Atau Tidak ?
Wasit Iwan Buana dari Pasuruan, ketika memimpin pertandingan antara PSIR Rembang melawan Semen Padang, 28 April lalu.
Wasit Iwan Buana dari Pasuruan, ketika memimpin pertandingan antara PSIR Rembang melawan Semen Padang, 28 April lalu.

Rembang – Buntut peristiwa pengeroyokan wasit Iwan Buana asal Pasuruan, Jawa Timur yang memimpin pertandingan Liga 2 antara PSIR Rembang menghadapi Semen Padang tanggal 28 April lalu di Stadion Krida Rembang, berujung dengan jatuhnya sejumlah sanksi dari Komisi Disiplin PSSI.

Salah satu sanksi, laga kandang antara PSIR Rembang menjamu Cilegon United, hari Senin, tanggal 14 Mei 2018 harus digelar di tempat netral tanpa penonton. Hal itu sebagai sanksi atas tingkah laku buruk suporter yang melakukan pelemparan ke dalam lapangan.

Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan PSIR, Tri Cahyo Rismawanto menjelaskan lokasi partai usiran minimal berjarak 100 kilo meter dari Kabupaten Rembang, di stadion yang memenuhi syarat Liga 2. Nantinya yang boleh menyaksikan laga tersebut, hanya perangkat pertandingan, tim kesehatan, aparat kemanan dan wartawan. Jika ternyata penonton nekat menyaksikan, dikategorikan pertandingan persahabatan dan PSIR bisa kena denda lagi Rp 50 Juta.

Karena surat keputusan Komisi Disiplin baru diterima Panpel Jum’at pagi (11 Mei 2018), maka pihaknya perlu menggelar rapat internal dulu, guna menentukan langkah – langkah selanjutnya. Alternatif yang ditawarkan, Stadion Citarum Semarang bisa untuk melaksanakan laga tanpa penonton tersebut.

“Dalam rapat koordinasi di Polda, perizinan yang sifatnya skala nasional, izin harus masuk 21 hari sebelum tanggal pertandingan. Padahal ini tempatnya pindah. Sama kepolisian, izin lokasi semula di Stadion Krida, ketika melawan Cilegon besok. Maka kami harus koordinasi dengan PT. Liga Indonesia Baru, seperti apa tekhnisnya, ” ujarnya.

Tri Cahyo Rismawanto mengakui sanksi tersebut menjadi hikmah berharga bagi semua pihak. Kedepan supaya tidak terulang kembali, Panpel berencana menyodorkan surat pernyataan, demi menjaga ketertiban selama pertandingan berlangsung. Bagaimanapun bukan tanggung jawab panitia pelaksana saja, melainkan harus didukung peran pemain, penonton, suporter, official, dan manajer. Termasuk kesigapan aparat keamanan.

“Terus terang masalah ini jadi hikmahlah. Terhadap suporter, manajer dan semua yang terlibat dalam pertandingan. Kita ingin ada surat pernyataan diteken, karena ada korelasinya dengan mengurus perizinan. Intinya ayo kita jaga Stadion Krida, dari tindakan – tindakan yang melanggar aturan kompetisi, “ imbuh Tri.

Selain mendapatkan sanksi pertandingan usiran sekali, Komisi Disiplin PSSI juga menjatuhkan sanksi terhadap 6 orang, diantaranya Manajer PSIR, Heri Kurniawan dilarang beraktivitas dalam kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI selama 6 bulan dan denda Rp 37,5 Juta, Asisten Manajer PSIR, Bayu mendapatkan larangan beraktivitas dalam kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI selama 6 bulan dan denda Rp 25 Juta.

Selain itu, Asisten Pelatih Johan, pelatih kiper Agus Bambang Tri Widodo, kemudian dua orang kitman Kusrin dan Sulis, masing – masing dihukum larangan mendampingi tim PSIR dalam 4 kali pertandingan dan denda Rp 20 Juta. Jika ditotal, sanksi denda mencapai Rp 138 Juta.

Denda wajib dibayar selambat – lambatnya 14 hari setelah diterima keputusan ini. Apabila lain waktu mengulangi lagi, maka akan mendapatkan sanksi lebih berat.

Menyangkut keputusan tersebut, ketika rapat antara Panpel dan manajemen PSIR Jum’at siang, mereka tidak akan mengajukan banding. Meski demikian tetap memohon Komisi Disiplin PSSI bersikap adil dalam menjatuhkan sanksi. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *