Panen Padi Di Lahan Kering Berkat Rekayasa Pengairan, Caranya ?
Petani Dusun Suruh Desa Seren Kecamatan Sulang mengairi tanaman padi di lahan tadah hujan.
Petani Dusun Suruh Desa Seren Kecamatan Sulang mengairi tanaman padi di lahan tadah hujan.

Sulang – Petani sebuah dusun di Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang mampu memanen tanaman padi, meski berada di persawahan tadah hujan. Salah satunya dengan cara melakukan rekayasa pengairan. Seperti apa ? berikut liputannya.

Kecamatan Sulang selama ini merupakan daerah kering. Apalagi menginjak musim kemarau seperti sekarang, banyak sekali lahan yang dibiarkan tak tergarap. Namun Kelompok Tani Ketam di Dusun Suruh Desa Seren Kecamatan Sulang, berani menanam padi di lahan tadah hujan.

Bukan berarti nekat, namun mereka tetap memperhitungkan potensi keberhasilan memanen padi. Salah satunya dengan memanfaatkan sumber air bawah tanah.

Petani membuat sumur di sekitar lahan pertanian, kedalaman antara 10 – 15 meter. Karena debet airnya kecil, petani berupaya melakukan rekayasa penyedotan, agar air yang dialirkan ke sawah benar – benar efektif.

Pompa penyedot air menggunakan kapasitas kecil, sebagaimana pompa yang biasa dipakai kalangan rumah tangga. Pompa dijalankan oleh mesin penggerak yang telah dimodifikasi, sehingga petani dapat mengatur besar kecilnya air keluar.

Sumber air kecil, kalau disedot kapasitas mesin penggerak yang besar, maka akan cepat terkuras habis. Petani menghindari kondisi tersebut. Tapi sebaliknya, melalui sistem rekayasa pompa semacam itu, lahan sawah yang basah terairi bisa merata.

Sunarto, seorang petani di Dusun Suruh Desa Seren mengatakan pada musim tanam lalu, satu petak sawah dapat menghasilkan 26 sak gabah. Saat ini memasuki musim tanam kedua, usia tanaman sudah 45 hari dan perkembangannya cukup bagus. Kurang 50 hari lagi, petani diperkirakan dapat memanen.

“Bibit padi yang kami tanam ini namanya Sembada, merupakan bibit padi hibrida. Penanaman menggunakan sistem jajar legowo. Ide membuat modifikasi pompa dan rekayasa pengairan berkat coba – coba, ternyata kok bagus. Harapan kami sumber air mampu bertahan hingga panen. Paling nggak dua hari sekali, mengalirkan air, “ tuturnya.

Setiap tahun, lahan tadah hujan yang semula panen padi hanya sekali, sekarang bisa dua kali. Model pengairan yang diterapkan oleh Kelompok Tani Ketam, menarik petani dari dusun lain. Mereka akhirnya ikut – ikutan mencoba.

Pengurus Kelompok Tani Ketam Dusun Suruh Desa Seren, Masdari menyatakan pihaknya siap menularkan ilmu kepada siapapun yang ingin  belajar.

“Yang mau tahu, monggo bisa datang ke sini, gratis. Kita memang harus bergerak dan jangan hanya diam pasrah dengan keadaan. Tujuannya apa, ya biar pertanian kedepan tambah maju, “ ungkap Masdari penuh semangat.

Keberhasilan Kelompok Tani Ketam memberdayakan sumber air yang minim, menjadikan kelompok ini ditunjuk sebagai wakil Kabupaten Rembang, dalam lomba upaya khusus pengembangan tanaman padi tingkat Provinsi Jawa Tengah. Tim penilai sudah meninjau lokasi, sedangkan hasilnya akan diumumkan dalam waktu dekat.

Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Rembang, Suratmin berharap tim penilai mempertimbangkan geografis wilayah dan tingkat kesulitan petani di Dusun Suruh.

“Jangan bandingkan dengan petani yang lahannya mudah mendapatkan air. Mungkin di sana padinya jauh lebih bagus. Tapi di Suruh ini, petani menghadapi tantangan tersendiri, soal pasokan air, “ tandasnya. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *