Jedoran Oh Jedoran, Nasibmu Bertahan Di Tengah Kepungan
Group jedoran dari Desa Tempaling Kecamatan Pamotan tampil di Ponpes Kauman, Karangturi Kecamatan Lasem.
Group jedoran dari Desa Tempaling Kecamatan Pamotan tampil di Ponpes Kauman, Karangturi Kecamatan Lasem.

Lasem – Seni tradisional Jedoran di Kabupaten Rembang terancam punah, karena para pemainnya saat ini mayoritas generasi tua. Hampir tidak ada generasi muda tertarik untuk meneruskan seni tersebut.

Salah satu group jedoran yang sampai sekarang tetap bertahan, yakni dari Desa Tempaling Kecamatan Pamotan. Pada sejumlah kesempatan, mereka yang berkekuatan 11 personel masih “ditanggap” pentas. Yang terbaru, group jedoran pentas di Pondok Pesantren Kauman, Karangturi, Kecamatan Lasem, pekan ini.

Seni jedoran hampir mirip seperti rebana, lengkap dengan sebuah jedor. Yang paling membedakan, lantunan syair – syair lagunya. Jedoran berisi kidung Jawa, menonjolkan makna hitungan hari dan pasaran Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon. Kemudian diselingi dengan lirik tembang bernafaskan Islam, sehingga ada perpaduan antara budaya Jawa dengan Islam.

Saryani, seorang pemain jedoran dari Desa Tempaling Kecamatan Pamotan mengatakan pihaknya masih eksis, karena semata – mata ingin mempertahankan warisan turun temurun dari leluhur. Meski jadwal tanggapan group jedoran masih kalah jauh dibandingkan group organ tunggal, baginya merupakan sebuah tantangan, supaya jedoran tetap hidup.

“Jedoran ini syairnya kebanyakan tentang hari dan rangkepan pasaran. Misalnya pon 7, wage 4, kliwon 8, agar kelak tetap diingat – ingat oleh generasi berikutnya. Kami nggak berpikir jedoran semakin ditinggalkan masyarakat. Tapi bagaimana caranya kesenian ini jangan sampai mati, “ tutur Saryani.

Pemerhati budaya di Lasem, Abdullah Hamid menganggap kekhasan jedoran yang sulit dilupakan adalah suara lengkingan mendayu dari sang penyanyi. Seakan – akan lengkingan ini menjadi seacam panggilan untuk orang lain, mau ikut memperhatikan tradisi lokal, termasuk jedoran.

Hamid juga khawatir seni khas tersebut akan hilang ditelan perkembangan zaman, karena kesulitan regenerasi. Apalagi belakangan banyak dikepung hiburan modern. Tanpa kepedulian dari pihak – pihak terkait, menurutnya berat.

“Butuh dukungan masyarakat, konkretnya apa ? salah satunya mau nanggap. Kalau pelan – pelan orang mendengar, insyaallah akan bangkit. Begitu pula pemerintahnya, misal ada forum pengajian, mau menghadirkan group jedoran. Jangan hanya yang berbau modern terus, “ ungkapnya.

Abdullah Hamid menambahkan tidak ada salahnya mengkombinasikan seni jedoran dengan sesuatu yang “kekinian”, untuk menjadi daya tarik masyarakat. Asalkan, selipan materi tambahan tersebut tidak sampai mengurangi makna dari jedoran itu sendiri. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *