Manajemen Dan Pemain PSIR Temui Wartawan Korban Kekerasan, Ini Hasilnya
Manajemen PSIR Rembang menemui wartawan Semarang TV, Sarman Wibowo. (gambar atas) Sarman menunjukkan kameranya yang dirusak.
Manajemen PSIR Rembang menemui wartawan Semarang TV, Sarman Wibowo. (gambar atas) Sarman menunjukkan kameranya yang dirusak.

Rembang – Wartawan yang menjadi korban kekerasan pemain PSIR Rembang, Sarman Wibowo kondisinya masih shock.

Apalagi Sarman masih sulit melupakan ketika ditarik – tarik dengan dipegangi lehernya dan dirampas kameranya, seusai pertandingan Liga 2, mempertemukan PSIR dengan Semen Padang yang berujung kisruh di Stadion Krida, Sabtu sore (28/04).

Sarman Wibowo, wartawan Semarang TV ini tampak duduk termangu di ruang tamunya di Dusun Kedungdoro Kelurahan Leteh, Rembang, Minggu pagi (29 April 2018). Sarman sesekali mengecek kamera handycam nya yang mati.

Sarana liputan tersebut dirampas oleh oknum pemain PSIR, saat Sarman mengambil gambar peristiwa kericuhan, usai pertandingan. Terdengar pula lontaran ancaman jangan memberitakan kejadian itu. Kamera kemudian ditahan selama 1 jam lebih. Saat dikembalikan, file gambar jalannya pertandingan sudah hilang. Kamera juga mati, diduga karena dicelup air. Sarman wibowo sangat menyayangkan peristiwa tersebut.

“Waktu itu ada 3 pemain mendekat sambil membentak – bentak saya, melarang jangan mengambil gambar. Leher saya disikep, kemudian ada pemain merampas kamera. Begitu kamera dikuasai, saya baru dilepaskan. Setelah dikembalikan, kamera kondisinya basah. Dalamnya terdapat air. Dugaan kami sengaja dirusak. Gambar pertandingan juga hilang semua, “ terang Sarman.

Sarman menambahkan Sabtu malam, sejumlah pemain PSIR didampingi perwakilan manajemen sudah mendatangi rumahnya, untuk menyampaikan permohonan maaf. Secara pribadi ia memaafkan tindakan para pemain. Namun dirinya terikat dengan organisasi profesi wartawan, sehingga menyerahkan bagaimana langkah berikutnya kepada organisasi. Kebetulan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) maupun Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mendukung langkah hukum.

“Intinya mereka minta maaf atas insiden tersebut. Sebagai sesama manusia dan orang Rembang sendiri, ya saya maafkan. Tapi kan ada organisasi yang menaungi kami, seperti PWI dan IJTI, monggo nanti gimana langkah selanjutnya. Saya manut, “ imbuhnya.

CEO PT. Dampo Awang selaku pengelola PSIR, Wiwin Winarto mewakili manajemen, pelatih dan pemain memohon maaf kepada wartawan, karena terjadi beberapa insiden. Ia menilai ada luapan emosional spontan dari pemain, karena situasinya sangat krusial. Pihaknya memastikan siap menanggung kerusakan kamera, seraya berjanji kasus kekerasan terhadap wartawan tidak terulang lagi.

“Mohon dimaafkan, apalagi kita sama – sama masyarakat Kabupaten Rembang. Sama – sama pecinta sepak bola. Kalau temen – temen wartawan mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari pemain, sekali lagi kami mohon maaf, “ ucap Wiwin.

Hal senada diungkapkan Rudi Santoso, striker PSIR Rembang yang mendekap leher Sarman Wibowo. Rudi mengakui terbawa emosi.

Sebelumnya, pertandingan liga 2 antara PSIR Rembang melawan Semen Padang di Stadion Krida, berakhir dengan skor 2 – 1, untuk kemenangan Semen Padang.

Pemain PSIR memprotes gol kedua Semen Padang, karena dianggap lebih dulu terjadi pelanggaran. Namun wasit Iwan Buana dari Pasuruan, Jawa Timur mengesahkan gol tersebut. Begitu pertandingan selesai, wasit menjadi sasaran pengeroyokan dari kubu tuan rumah. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *