Tahanan Tewas : Koma Seminggu, Ada Kejadian Memilukan Ketika Sang Ibu Bisikkan Kalimat Ini
Orang tua korban berada di dekat keranda jenazah anaknya, Jum’at petang (27/04), sebelum berangkat ke Kediri, Jawa Timur.
Orang tua korban berada di dekat keranda jenazah anaknya, Jum’at petang (27/04), sebelum berangkat ke Kediri, Jawa Timur.

Rembang – Edo Ibnu Darmanto, tahanan Rutan Rembang yang tewas, selama ini dikenal sebagai pekerja keras. Meski usianya menginjak 27 tahun, namun pria asal Kediri, Jawa Timur tersebut belum berencana menikah, karena ingin bekerja lebih dulu, untuk membantu biaya sekolah keempat adiknya.

Ibu korban, Endang Purwanti menceritakan beberapa waktu lalu sebelum menjalani proses hukum, Edo pernah menyampaikan enggan cepat menikah. Sehari – hari giat bekerja menjadi sopir, sebagai sarana ikut membantu ekonomi keluarga.

Ia mengaku sangat terpukul atas kematian Edo. Baginya Edo bukan penjahat kelas kakap, tetapi hanya terlibat kecelakaan lalu lintas. Truk yang dikemudikan Edo tengah parkir diseruduk sepeda motor, kemudian diperkarakan polisi. Begitu masuk Rutan, Endang tak mengira sang anak diperlakukan setragis itu.

Sejak Edo menghuni Rutan, tiap kali telefon selalu mengabarkan kerap dihajar. Bahkan sampai sulit membaca, gara – gara mata bengkak. Alasannya, Edo belum membayar sewa kamar tahanan sebesar Rp 2 Juta. Pihak keluarga belum bisa mengirim uang ke nomor rekening yang ditentukan, lantaran belum punya uang sebesar itu.

“Dia nggak bilang siapa pemilik nomor rekening tersebut. Suami saya sudah menyarankan seminggu lagi uang akan dikirim, mau cari hutang dulu, tapi sudah keduluan ada peristiwa ini. Saya sekarang tinggal mengikhlaskan saja, semoga kebenaran akan terungkap, “ kata Endang.

Endang mengisahkan selama koma hampir seminggu di rumah sakit dr. R. Soetrasno Rembang, Edo terbaring di atas tempat tidur, sama sekali tak bereaksi. Tapi ada kejadian aneh yang membuatnya trenyuh. Suatu malam, dirinya mengusap – usap rambut anak pertamanya itu, sambil membisikkan bahwa kepolisian sudah turun tangan menangani peristiwa yang menimpa Edo.

Ia kaget, lantaran Edo mengeluarkan air mata. Hanya reaksi itu yang dijumpai, sebelum ajal menjemput keesokan harinya.

“Waktu air matanya menetes, saya merasakan Edo seperti ingin menyampaikan sesuatu. Tapi tak kuasa. Kalau saya ingat dia menangis, hati ini rasanya nggak karu – karuan mas. Jika terbukti Edo dianiaya, muda – mudahan pelakunya ditangkap dan diproses. Biar arwah almarhum tenang di sana, “ imbuhnya.

Kepala Rumah Tahanan Rembang, Ruspriyanto membantah Edo meninggal dunia karena menjadi korban penganiayaan di dalam sel. Menurutnya, dari hasil pengumpulan informasi, Edo meninggal dunia, akibat percobaan bunuh diri.

“Yang kami ketahui tidak dianiaya, hasil konfirmasi kami yang bersangkutan meninggal dunia, karena gantung diri. Korban kemudian dibawa ke rumah sakit. Jadi meninggalnya di rumah sakit, “ terang Ruspriyanto.

Kaur Binops Satuan Reserse Dan Kriminal Polres Rembang, Iptu Moch. Edi Sismanto meminta masyarakat bersabar. Pihaknya siap mendalami kasus kematian Edo. Selain pemeriksaan saksi dan olah TKP, hasil autopsi jenazah juga akan menjadi pijakan penyelidikan. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *