Mitos Ngaglik, MUI Keluarkan Pernyataan Sikap
Potret sebuah keluarga di Dusun Ngaglik Desa Kedungasem Kecamatan Sumber.
Potret sebuah keluarga di Dusun Ngaglik Desa Kedungasem Kecamatan Sumber.

Sumber – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Rembang turut prihatin mendengar fenomena mitos Dusun Ngaglik Desa Kedungasem Kecamatan Sumber yang menjadi pantangan banyak pegawai negeri, TNI & Polri. Konon kalau nekat masuk Dusun Ngaglik, akan ketiban sial.

Ketua MUI Kabupaten Rembang, Zaenudin Jafar, Jum’at siang (06 April 2018) mengatakan dari sisi kaca mata agama Islam, tidak ada sebuah kampung yang mengakibatkan kesialan, manakala didatangi. Sial tidaknya seseorang, tergantung perilaku dan bisa saja hal itu merupakan ujian dari Allah SWT.

Ia menduga berawal dari pengalaman kurang mengenakkan seusai datang ke Dusun Ngaglik, setelah itu dikait – kaitkan. Begitu isyu menyebar, langsung menjadi kepercayaan. Sebab lain, dulu ketika zaman penjajahan Belanda, pejuang pribumi sengaja menyebarkan kabar sebuah dusun “wingit” didatangi, dengan alasan supaya penjajah Belanda tidak berani masuk dan menangkap para pejuang. Bisa jadi mitosnya berlanjut sampai sekarang.

“Saya kira hanya psikis takut berlebihan saja yang membuat jadi enggan masuk Dusun Ngaglik. Jangan karena datang ke tempat A, jadi sial. Apalagi jabatan copot. Kalau mengaku orang beragama, kembalikan semuanya kepada Yang Maha Kuasa, “ jelasnya.

Zaenudin Jafar berpendapat tokoh agama, alim ulama, kemudian para pimpinan pemerintah mestinya sudi untuk datang berkunjung ke Dusun Ngaglik, supaya menjadi contoh. Tanpa ada yang dijadikan suri tauladan, menurutnya sulit mengikis mitos. Lebih – lebih sudah terlanjur menggurita di tengah masyarakat.

“Solusi terbaiknya tentu para pimpinan pemerintah mau inisiatif datang ke sana. Biar jadi contoh bagi jajarannya. Nggak usah lama – lama, sapa saja warga. Habis itu pulang. Kenapa harus takut ini itu, yang ujung – ujungnya merugikan masyarakat, “ imbuhnya.

Pernyataan sikap MUI tersebut sekaligus ingin menanggapi keluh kesah warga Dusun Ngaglik yang menjadi korban mitos. Ibu melahirkan tidak didatangi langsung oleh bidan desa, karena takut. Begitu pula ketika ada warga setempat punya kerja ingin “nanggap” kethoprak, hampir tidak ada group mau manggung di Dusun Ngaglik. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *