Berawal Dari Keprihatinan, Virus Dari Sumurpule Layak Ditularkan
Semangat gotong royong ditunjukkan warga Desa Sumurpule Kecamatan Kragan, ketika membantu perbaikan rumah.
Semangat gotong royong ditunjukkan warga Desa Sumurpule Kecamatan Kragan, ketika membantu perbaikan rumah.

Kragan – Prihatin semangat gotong royong semakin memudar di tengah masyarakat pedesaan, warga Desa Sumurpule Kecamatan Kragan membentuk Paguyuban Gotong Royong Seguyup Rukun.

Sikap egois dan sering mengukur tenaga seseorang dengan materi, ternyata tak hanya melingkupi warga perkotaan. Tetapi gaya hidup seperti itu lama kelamaan merambah sampai ke desa. Dulu era tahun ’90 an, masih biasa dijumpai warga bersama – sama mendirikan rumah. Seiring pergeseran waktu, kekompakan tersebut semakin jarang terlihat.

Sesepuh Paguyuban Gotong Royong Seguyup Rukun Desa Sumurpule Kecamatan Kragan, Bambang Utomo menceritakan ada ratusan orang ikut ambil bagian dalam paguyuban ini. Tiap kali warga membutuhkan bantuan, mereka siap turun tangan, tanpa mengharapkan upah. Semua dijalani dengan ikhlas.

Ia ingin semangat gotong royong warisan nenek moyang akan tetap lestari. Jangan sampai mati ditelan oleh modernisasai zaman.

“Awal mulanya kami prihatin. Kelihatannya warga di desa akan meniru kehidupan di kota. Gotong royong atau orang desa menyebutnya sambatan, sudah jarang sekali. Rasa itu kemudian kita wadahi melalui Paguyuban Gotong Royong Seguyup Rukun. Tiap selapan sekali kita ngumpul, omong – omong lah mengenai perkembangan di kampung, “ jelasnya.

Pria berusia 58 tahun ini mengakui sebagai bentuk perjuangan membantu, pihaknya sering dihadapkan pada masalah modal. Cara menyiasati, warga bisa saling patungan sesuai kemampuan. Tidak mesti harus berbentuk uang. Dirinya berharap virus gotong royong yang digalakkan di Desa Sumurpule dapat menular ke desa – desa lain.

“Misalnya ada yang punya bambu nyumbang bambu. Kemudian bos – bos yang usahanya lancar, berperan menjadi donatur. Jangan dipandang besar kecilnya, tapi guyup rukune warga seperti ini, luar biasa mas, “ imbuhnya.

Baginya yang menarik, di dalam Paguyuban Gotong Royong Seguyup Rukun, berisi figur – figur dari berbagai latar belakang partai politik. Namun ketika sudah bergerak bersama, baju kepartaian mereka seakan – akan hilang, melebur jadi satu dalam bingkai gotong royong. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *