Pantomim Sindir Politisi Lewat Demokrasi Pekok
Pemain pantomim beraksi di Alun – Alun Rembang.
Pemain pantomim beraksi di Alun – Alun Rembang.

Rembang – Sejumlah penyandang tuna grahita di Rembang bergabung dalam komunitas pegiat seni pantomim. Mereka menjadikan pantomim sebagai sarana untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Salah satunya Poniran, penyandang tuna grahita warga Desa Sumberejo, Rembang. Ia termasuk cukup aktif menghidupkan dunia pantomim di Kabupaten Rembang. Dengan bahasa isyarat sekaligus didampingi penerjemah, Poniran mengaku senang bisa mengekspresikan minat seninya.

Sutejo, tokoh pantomim di Rembang mengungkapkan pihaknya pada Kamis sore (22 Maret 2018) meramaikan Hari Pantomim Sedunia di kawasan Alun – Alun Rembang. Ada sekira 15 orang yang ikut ambil bagian dalam event ini, termasuk Poniran. Selain ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa seni pantomim masih tetap eksis, kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi orang berkebutuhan khusus berkesenian.

“Tiap tanggal 22 Maret kan diperingati Hari Pantomim Dunia. Kita kumpul bareng dan pentas bareng. Ternyata di Rembang banyak juga peminatnya, termasuk penyandang tuna grahita. Tuna Grahita pas, karena pantomim ini menonjolkan bahasa tubuh. Jadi kesenian nggak hanya dilakukan kaum normal, yang berkebutuhan khusus juga bisa, “ ungkapnya.

Sutejo mengakui masyarakat terkadang memandang sebelah mata seni pantomim. Padahal di dalamnya mengandung banyak pesan sosial. Begitu pula kritik terhadap pemerintah, biasa ditampilkan melalui gerakan pemain pantomim. Tahun ini mengangkat topik “Demokrasi Pekok”, karena masa demokrasi yang berjalan sekarang, dianggap tidak lebih baik ketimbang rezim masa lalu. “Demokrasi Pekok” mengisahkan pejabat ketika ingin mencalonkan diri selalu memberikan janji – janji. Bahkan rela membagikan uang, demi meraih suara. Tapi begitu jadi, sering lupa diri. Masyarakat akhirnya berdemo, menurunkan pejabat tersebut.

“Pantomim itu kalau dicermati enak lho, bisa mewakili kegundahan masyarakat, dikemas lewat seni. Kami menekankan soal demokrasi yang berkembang di Indonesia. Banyak pihak berkoar – koar, tapi efeknya untuk masyarakat tidak lebih baik dibandingkan yang dulu – dulu. Jadi masyarakat harus semakin pintar memilih, jangan mau dikibuli, “ beber Sutejo.

Menyangkut regenerasi pantomim, menurut pria yang tinggal di Jl. Pemuda sebelah utara SMA Santa Maria Rembang ini, di kalangan siswa Sekolah Dasar, bibit – bibit muda sudah banyak bermunculan. Bahkan hampir tiap tahun di beberapa kecamatan, berlangsung perlombaan patnomim. Dari mereka pula, seni pantomim akan tetap hidup. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *